Rabu, 27 April 2022

Refleksi Mingguan -ku

 REFLEKSI MINGGU KE-18

PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN



KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

 Modul 3.1.a.9 Koneksi Antar Materi

Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

1.     Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin

Ki HajarDewantar memiliki pandangan Pendidikan berupa Pratap Triloka yang dikenal dengan  semboyannya Ing Ngarso Sung Tuladha (sebagai seorang pemimpin dalam hal ini guru hendaknya mampu memberikan contoh/tauladan yang baik kepada murid)Ing Madya Mangun Karsa (seorang pemimpin  mampu membangun karsa/kemauan atau pemberi semangat/motivasi),  dan Tut wuri Handayani (seorang pemimpin mampu memberikan dukungan, arahan, dan semangat kepada muridnya).

Berdasarkan hal tersebut di atas guru sebagai pemimpin pembelajaran harus mampu mengambil sebuah keputusan yang tepat dan bijaksana serta berpihak kepada murid yang merupakan subyek dalam sistem pendidikan. Seorang guru harus memberikan karsa atau usaha keras sebagai wujud filosofi Pratap Triloka ing madyo mangun karsa dan pada akhirnya guru membantu murid untuk dapat menyelesaikan atau mengambil keputusan terhadap permasalahannya secara mandiri. Guru hanya sebagai pamong yang mengarahkan murid menuju kebahagiaan.

2.     Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Nilai-nilai positif seperti  seperti keadilan, tanggung jawab, kejujuran, bersyukur, lurus hati, berprinsip, integritas, kasih sayang, rajin, komitmen, percaya diri, kesabaran, dan lainnya, yang tertanam kuat dalam diri kita penting untuk dipupuk karena keputusan-keputusan yang diambil oleh seseorang  akan merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh orang tersebut. Dengan nilai-nilai yang dimilikinya seorang guru hendaknya menjadi rujukan atau teladan baik bagi murid maupun seluruh warga sekolah.

Dalam pengambilan suatu keputusan sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita. Nilai-nilai bagaikan gunung es yang hanya terlihat kecil dipermukaan air tetapi merupakan bagian yang besar di dalam alam bawah sadar kita. Maka penting untuk memupuk nilai-nilai positif dalam diri kita yang nantinya akan menjiwai setiap keputusan yang kita ambil.

Nilai-nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak pada murid adalah manifestasi dari pengimplementasian kompetensi sosial emosional kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran social dan keterampilan berinteraksi social dalam mengambil keputusan secara berkesadaran penuh untuk meminimalisir kesalahan dan konsekuensi yang akan terjadi. Nilai-nilai positif akan mengarahkan kita mengambil keputusan dengan resiko yang sekecil-kecilnya. Keputusan yang mampu memunculkan kepentingan dan keberpihakan pada peserta didik, seorang guru akan mempertimbangkan nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati dan disetujui bersama.

3.     Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Coaching sebagai hubungan kemitraan antara coach dengan coachee dan memiliki tujuan untuk menuntun. Coaching adalah ketrampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah yang sebenarnya terjadi baik masalah dalam diri kita maupun masalah yang dimiliki orang lain. Dengan langkah coaching TIRTA, kita dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat pemecahan masalah secara sistematis. Konsep coaching TIRTA sangat ideal apaila dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil.

Dampingan dan bimbingan yang telah dilakukan oleh pendamping praktik dan fasilitator telah membantu saya berlatih mengevaluasi keputusan yang telah saya ambil. Apakah keputusan tersebut sudah berpihak kepada murid, sudah sejalan dengan nilai-nilai kebajikan universal dan apakah keputusan yang saya ambil tersebut akan dapat saya pertanggung jawabkan.

4.     Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Dalam proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, guru perlu memiliki kompetensi sosial emosional seperti kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan ketrampilan berhubungan sosial (relationship skills). Sehingga diharapkan proses pengambilan keputusan dapat dilakukan secara sadar penuh (mindfull), terutama sadar dengan berbagai pilihan , konsekuensi yang akan terjadi, dan meminilisir kesalahan dalam pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan membutuhkan keberanian dan kepercayaan diri untuk menghadapi konsekuensi dan implikasi dari keputusan yang kita ambil karena tidak ada keputusan yang bisa sepenuhnya mengakomodir seluruh kepentingan para pemangku kepentingan. Namun tujuan utama pengambilan selalu pada kepentingan dan keberpihakan pada anak didik

 

5.     Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Ketika seorang guru dihadapkan pada kasus yang berkaitan dengan dilema etika maupun bujukan moral maka diperlukan ketrampilan berhubungan sosial untuk mengambil suatu keputusan yang tepat. Kita dapat menggunakan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan terutama pada uji legalitas untuk menentukan apakah masalah tersebut termasuk bujukan moral yang berarti benar vs salah ataukah dilema etika yang merupakan permasalahan benar vs benar. Apabila permasalahan yang dihadapi adalah bujukan moral maka dengan tegas sebagai seorang guru, kita harus kembali ke nilai-nilai kebenaran. Sebagai guru, Ketika saya dihadapkan dengan suatu kasus dilema etika, maka saya akan melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang dan berusaha menggunakan 3 prinsip pengambilan keputusan, 4 paradigma dan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan, di mana dasar dari keseluruhannya adalah nilai-nilai yang saya miliki.

6.     Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat, semestinya akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Pengambilan keputusan yang tepat tekait kasus-kasus pada masalah moral atau etika hanya dapat dicapai jika dilakukan melalui 9 langkah uji dalam pengambilan keputusan supaya keputusan tersebut mampu mengakomodasi semua kepentingan dari pihak-pihak yang terlibat , maka hal tersebut akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. 

7.     Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini ? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda ?

Dalam kasus dilema etika, pada dasarnya apapun keputusan yang kita ambil dapat dibenarkan secara moral. Akan tetapi perlu memperhatikan prinsip-prinsip dalam pengambilan suatu keputusan. Ketika dihadapkan dengan situasi dilema etika tentu adakalanya kita mengalami kesulitan-kesulitan dalam menjalankan pengambilan keputusan tersebut. Kesulitan muncul bisa disebabkan karena berbagai faktor misalnya, karena masalah perubahan paradigma dan budaya sekolah yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun, masih minimnya pengetahuan dan pengalaman yang saya miliki dalam menyelesaikan situasi permasalahan yang dihadapi, kekhawatiran apakah keputusan yang diambil merupakan keputusan yang tepat dan dapat mengakomodir kepentingan orang banyak serta tidak mencederai pihak lainnya, dan adanya perbedaan mindset dan sudut pandang yang menyebabkan sulitnya menemukan solusi atau kesepakatan yang dapat diterima oleh setiap pihak yang terlibat. Kita harus berfikir hasil akhir dari keputusan kita yang sesuai dengan prinsip berpikir berbasis hasil akhir (end based thinking), kita juga harus melihat peraturan yang mendasari keputusan yang kita ambil (berpikir berbasis peraturan-rule based thinking) serta kita harus menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman sesuai dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli (care based thinking).

 

8.     Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Merdeka belajar berarti siswa bebas untuk mencapai kodrat alamnya (mengembangkan potensinya) tanpa ada tekanan dari pihak manapun. Siswa juga dapat mencapai kebahagiaannya sesuai dengan potensi yang dia miliki. Pengambilan keputusan yang dilakukan tentu akan mempengaruhi pola pengajaran yang kita lakukan terhadap murid. Pada konteks merdeka belajar, proses pembelajaran yang dilakukan adalah yang berpihak pada murid. Karena itu keputusan yang diambil sebagai bentuk proses dalam menuntun murid untuk merdeka, tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat alam, zaman dan potensi yang dimilikinya. Hendaknya guru memberikan ruang bagi murid dalam proses pengajaran untuk merdeka mengemukakan pendapat dan mengekspresikan bakat dan potensi yang dimiliknya. Dengan demikian murid-murid dapat belajar mengambil keputusan yang sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang lain, karena pada dasarnya tujuan pembelajaran adalah dapat memberikan keselamatan dan kebahagian pada murid.

 

9.     Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Guru adalah pemimpin pembelajaran sebagai pamong yang diibaratkan seorang petani yang menyemai benih. Benih tersebut dapat tumbuh subur apabila dirawat, dan dijaga dengan baik. Keputusan yang berpihak kepada murid haruslah melalui pertimbangan yang sangat akurat dimana dilakukan terlebih dahulu pemetaan terhadap minat belajar, profil belajar dan kesiapan belajar murid untuk kemudian dilakukan pembelajaran berdiferensiasi yaitu melakukan diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk.

Ketika guru sebagai pemimpin pembelajaran melakukan pengambilan keputusan yang memerdekakan dan berpihak pada murid, maka dapat dipastikan murid-muridnya akan belajar menjadi orang-orang yang merdeka, kreatif , inovatif dalam mengambil keputusan yang menentukan bagi masa depan mereka sendiri. Di masa depan mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang matang, penuh pertimbangan dan cermat dalam mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidupnya.

 

10.  Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan akhir yang dapat ditarik dari pembelajaran modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran terkait dengan modul-modul yang telah dipelajari sebelumnya adalah sebagai berikut :

a.     Dalam melaksanakan proses Pendidikan, seorang pendidik harus mampu melihat dan memahami kebutuhan belajar muridnya serta mampu mengelola kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

b.     Untuk dapat mengambil sebuah keputusan dengan baik maka keterampilan coaching akan membantu kita sebagai pemimpin pembelajaran dengan pertanyaan- pertanyaan untuk memprediksi hasil dan berbagai opsi dalam pengambilan keputusan. Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus memiliki kesadaran penuh (mindfullness) untuk menghantarkan muridnya menuju profil pelajar Pancasila.

c.      Pengambilan keputusan harus berdasarkan pada budaya positif dan menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being).

Kamis, 03 Februari 2022

Tugas Aksi Nyata PGP Modul 1.4

 

 

AKSI NYATA BUDAYA POSITIF

MEWUJUDKAN SISWA YANG GEMAR MEMBACA

(Oleh : Rikana Sulistyaningrum, S.Pd – CGP Angkatan 4 Kota Surakarta)

 

A.   LATAR BELAKANG MASALAH

  1. Budaya membaca pada siswa sangat rendah, sehingga perlu dimunculkan budaya positif Gerakan literasi siswa yang dicanangkan secara rutin di sekolah.
  2. Kesadaran siswa tentang kedisiplinan di sekolah menurun akibat terlalu lama menjalani PJJ, maka perlu dibentuk sebuah “keyakinan kelas” sebagai Langkah nyata mewujudkan budaya disiplin siswa.
  3. Beberapa siswa masih kurang bertanggung jawab terhadap kebersihan lingkungan.
  4. Budaya positif di atas seharusnya dipegang teguh oleh seluruh warga sekolah dan untuk lingkungan sekolah, tidak hanya untuk lingkungan kelas saja.

  

B.   TUJUAN

  1. Menguatkan karakter siswa dalam mewujudkan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila pada diri siswa.
  2. Menumbuhkan budaya positif pada siswa dengan mewujudkan keyakinan kelas
  3. Membudayakan gemar membaca untuk mengisi waktu luang di kelas maupun di rumah.
  4. Menguatkan peran Guru Penggerak dalam menggerakkan pihak lain di lingkungan sekolah untuk berkolaborasi membangun budaya positif di sekolah sehingga terwujud lingkungan belajar yang berpihak pada murid.


 C.  TOLOK UKUR    

  1. Siswa menjadi gemar membaca.
  2. Tercipta keyakinan kelas yang terlaksana atas kemandirian dan kedisiplinan siswa.
  3. Tumbuhnya karakter baik dalam diri murid yang mencerminkan Profil Pelajar Pancasila.

 

D.  LINIMASA TINDAKAN YANG DILAKUKAN

1.     Membuat perencanaan kegiatan Bersama siswa tentang penataan kelas.

2.     Membuat keyakinan kelas.

3.     Penataan pojok baca/literasi

4.     Memulai pembiasaan aktivitas literasi di kelas

5.     Memantabkan pelaksanaan “Keyakinan Kelas” dengan refleksi Bersama siswa.

6.     Berkolaborasi dengan wali murid dalam monitoring kegiatan gemar membaca di rumah.


E.  UKUNGAN YANG DIBUTUHKAN

Pihak yang terlibat :

  1. Kepala Sekolah, mendukung budaya positif untuk mewujudkan lingkungan belajar yang berpihak pada murid.
  2. Rekan guru, berkolaborasi menciptakan budaya positif siswa gemar membaca.
  3. Siswa, Melaksanakan budaya positif siswa gemar membaca di sekolah dan di rumah.
  4. Wali murid: Ikut membimbing anak dalam pembiasaan gemar membaca di rumah

 Cara mendapatkan dukungan dari berbagai pihak yaitu:

  1. Konsultasi dengan Kepala Sekolah 
  2. Koordinasi dengan rekan sejawat
  3. Sosialisasi dengan berbagai pihak tentang budaya positif gemar membaca

 

F.  PELAKSANAAN

1.     Guru dan murid membuat keyakinan kelas yang disepakati bersama

2.     Pembiasaan kebersihan dan kerapian kelas

a.     Petugas piket membersihkan kelas sebelum pelajaran dimulai.

b.     Semua siswa menjaga kebersihan dan kerapian tempat duduk masing-masing selama pelajaran berlangsung.

c.     Petugas piket kembali membersihkan kelas seusai pelajaran.

3.     Pembiasaan mengisi waktu dengan membaca buku bacaan (termasuk buku non pelajaran).

a.     Membaca satu buku cerita yang tersedia di kelas

b.     Pada waktu yang ditentukan, siswa secara bergantian menceritakan isi bacaan yang pernah dibaca, di depan kelas.

4.     Pembiasaan di rumah

Menyediakan waktu antara 15-30 menit setiap sore untuk membaca buku (pelajaran atau non pelajaran) dengan bimbingan orang tua. 


G. DOKUMENTASI 

1. Membuat Keyakinan Kelas

    




2. Pembiasaan Kebersihan dan Kerapian Kelas

  

    

3. Pembiasaan Mengisi Waktu dengan Membaca

  


 

4. Pembiasaan di Rumah

 

    

  

5. Kegiatan Pengimbasan Modul 1 di SDN Tumenggungan No. 28 Surakarta

 

 

 


Tergerak, Bergerak, Menggerakkan
Salam Guru Penggerak !
Guru Bergerak, Indonesia Maju !










Senin, 31 Januari 2022

AKSI NYATA MODUL 3.3

  AKSI NYATA MODUL 3. 3   Pengelolaan Program Sekolah yang Berpihak pada Murid PROGRAM EKSTRAKURIKULER SEK...